Eropa Dilanda Panas Ekstrem, Penjualan AC Portabel China Meroket
SHANGHAI - Fenomena gelombang panas ekstrem yang tengah menerpa kawasan Eropa memicu terjadinya lonjakan permintaan yang sangat signifikan terhadap komoditas perangkat pendingin ruangan.
Situasi tersebut seketika mendorong jajaran produsen alat elektronik rumah tangga asal Tiongkok untuk memacu kapasitas produksi AC portabel mereka demi menyuplai pesanan yang berdatangan dari berbagai negara di wilayah tersebut.
Bersumber dari pemberitaan Global Times, Rabu (1/7/2026), Midea yang merupakan salah satu pabrikan AC terkemuka asal Tiongkok, sampai mengoperasikan fasilitas pabriknya di kawasan Shunde, Provinsi Guangdong, selama 24 jam penuh demi menggenjot kuantitas produksi model AC portabel varian PortaSplit.
Pihak perusahaan bergegas mendistribusikan unit-unit pendingin tersebut ke benua Eropa mengandalkan jalur moda kereta barang China-Eropa dengan target agar bisa tiba sebelum momentum musim panas usai.
"Kami melihat pertumbuhan penjualan yang kuat di beberapa wilayah Eropa Barat. Penjualan AC kami di pasar dengan tingkat penetrasi AC yang relatif rendah, termasuk Perancis, Spanyol, Jerman, dan Inggris, masing-masing mencatat kenaikan lebih dari 70 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu," kata Midea dalam keterangannya.
Sejumlah produsen raksasa lainnya, seperti Gree hingga TCL, terpantau turut mengintensifkan volume pembuatan produk AC portabel sejenis menyusul tingginya kurva permintaan sebagaimana yang dipublikasikan oleh laman yicai.com.
Tingkat kebutuhan masyarakat terhadap AC portabel ini meroket tajam pasca daratan Eropa diterjang gelombang panas hebat yang sukses memecahkan rekor suhu tertinggi di sejumlah negara.
Berdasarkan himpunan data BBC, pembengkakan angka suhu yang memecahkan rekor terjadi pada pengujung Juni di wilayah Jerman, Belgia, serta Belanda, sedangkan grafik angka kematian imbas cuaca panas ekstrem juga dilaporkan menanjak di kawasan Spanyol dan Prancis.
Dampak dari kondisi cuaca buruk tersebut pada akhirnya memaksa para penduduk lokal untuk berburu perangkat pendingin ruangan yang sifatnya praktis dan mudah dipasang tanpa perlu melakukan proses renovasi rumah berskala besar.
Sepanjang masa ini, rasio kepemilikan perangkat AC di kalangan masyarakat Eropa memang diidentifikasi relatif minim bila dikomparasikan dengan kawasan belahan dunia lainnya.
Di wilayah Paris serta area kota-kota bersejarah lainnya, berlaku sebuah regulasi hukum yang sangat ketat berupa larangan pengerjaan pengeboran dinding bangunan untuk keperluan pemasangan AC split tipe konvensional.
Ditambah lagi, estimasi biaya untuk jasa pemasangan profesional kerap kali kedapatan jauh lebih menguras kantong ketimbang harga beli unit AC itu sendiri, yang pada akhirnya membuat konsumen enggan melirik tipe konvensional.
Rentetan kendala ini secara otomatis membuka celah pasar yang sangat menjanjikan bagi produk AC portabel yang tidak memerlukan mekanisme instalasi permanen.
Tingkat popularitas dari produk AC portabel buatan Tiongkok ini juga tercermin jelas di jagat media sosial, di mana para pengguna ramai menyuarakan ulasan positif lantaran produk dinilai sangat praktis serta ramah di kantong.
Bahkan, terdapat seorang warganet di negara Jerman yang secara khusus mendirikan sebuah situs web mandiri hanya untuk memantau ketersediaan stok produk AC PortaSplit besutan Midea.
Salah seorang pengguna media sosial lainnya menuturkan kisah bahwa dirinya harus rela menempuh perjalanan darat sejauh 200 kilometer demi bisa mengamankan unit pasokan terakhir, dengan nominal harga yang diinfokan melonjak hingga 100 euro akibat ketatnya persaingan permintaan.
Negara Tiongkok saat ini memang tercatat mendominasi jalinan rantai pasok global untuk sektor produk pendingin ruangan.
Mengacu pada himpunan data Observatory of Economic Complexity (OEC), nilai ekspor produk AC dari Tiongkok sukses menyentuh angka 27,2 miliar dollar AS di sepanjang periode 2025, atau merepresentasikan sekitar 40 persen dari total nilai ekspor di seluruh dunia.
Tingkat permintaan atas variasi produk pendingin tubuh lainnya asal Tiongkok, seperti perangkat kipas genggam, produk topi yang dilengkapi kipas, hingga jenis selimut pendingin, didapati ikut mengalami tren kenaikan.
Seorang pengamat internet asal Tiongkok, Liu Dingding, menyampaikan pandangan bahwa masifnya permintaan ini dipicu oleh faktor urgensi kebutuhan konsumen serta konsep desain produk yang adaptif dengan karakteristik pasar lokal setempat.
"Di tengah gelombang panas yang memecahkan rekor di Eropa, produk pendingin asal China yang ramah pengguna mampu mengisi kekosongan di pasar regional sekaligus memenuhi kebutuhan mendesak masyarakat setempat," ujar Liu.
Seorang Profesor dari Academy of Regional and Global Governance, Beijing Foreign Studies University, Cui Hongjian, mengutarakan bahwa Tiongkok mempunyai ekosistem rantai industri yang mumpuni serta nilai daya saing manufaktur yang kuat untuk mengimbangi kebutuhan pasar Eropa.
"China, dengan rantai industri yang lengkap dan daya saing manufaktur yang kuat, menawarkan keunggulan perdagangan yang saling melengkapi dengan Eropa dan seharusnya tidak mengalami kesulitan untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat dari kawasan tersebut," kata Cui.
Walau begitu, Cui memberikan catatan khusus bahwa hubungan kemitraan dagang antara pihak Tiongkok dengan Uni Eropa kini mulai berhadapan dengan spektrum tantangan baru.
"Namun berbeda dengan sebelumnya, kini Eropa mulai mengadopsi langkah-langkah yang lebih proteksionis dalam perdagangan dengan China," ujarnya.
Cui memberikan rekomendasi kepada pihak Uni Eropa untuk segera menanggalkan orientasi kebijakan proteksionisme, menaruh hormat pada jalannya mekanisme pasar bebas serta opsi pilihan konsumen, sekaligus konsisten merawat jalinan kerja sama perdagangan bilateral yang inklusif demi memberikan maslahat bagi kedua belah pihak.