Breaking

Universitas Bakrie Bahas Dampak AI Terhadap Budaya Lokal Indonesia

GA
Ganis Akjul Karyawati

Editor: Sutomo

Rabu, 08 Juli 2026
Universitas Bakrie Bahas Dampak AI Terhadap Budaya Lokal Indonesia
Universitas Bakrie menggelar webinar *Contemporary Digital Culture* untuk membahas strategi menghadapi dampak AI dan algoritma terhadap budaya lokal Indonesia. (FOTO: NET)

JAKARTA - Universitas Bakrie menyelenggarakan Webinar Contemporary Digital Culture demi merumuskan strategi dalam merespons isu kemajuan kecerdasan buatan (AI), algoritma media sosial, berserta pergeseran pola konsumsi informasi yang dinilai mendatangkan tantangan baru bagi keberlanjutan budaya lokal di Indonesia.

Kepala Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie, Dr Prima Mulyasari Agustini memaparkan, di tengah derasnya arus digitalisasi, publik dituntut tak semata-mata sanggup menyelaraskan diri atas teknologi, melainkan juga memelihara identitas budaya supaya tetap relevan di ruang digital.

"Bahwa transformasi digital tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman bagi budaya lokal, melainkan sebagai momentum untuk memperluas eksistensi dan daya saing budaya Indonesia di tingkat global," kata Prima di Jakarta, Rabu.

Oleh sebab itu, forum akademik bertajuk "Strategi Komunikasi dan Tantangan Ketahanan Budaya Lokal di Ruang Digital" ini menyatukan akademisi, peneliti, praktisi komunikasi, mahasiswa pascasarjana, berserta aktivis budaya guna mengulas siasat menghadapi pergeseran lanskap komunikasi digital.

Menurut pandangannya, budaya lokal mempunyai kapasitas untuk terus bertahan andai mampu beradaptasi atas dinamika zaman.

Ruang digital malahan membuka kesempatan bagi masyarakat guna mendokumentasikan, mengenalkan, serta mengembangkan kekayaan budaya Indonesia kepada pemirsa yang jauh lebih luas.

"Yang dibutuhkan adalah strategi komunikasi yang tepat agar teknologi dan budaya dapat tumbuh secara berdampingan," ujarnya.

Selain kemajuan AI, webinar turut mendiskusikan pelbagai fenomena yang kian akrab atas kehidupan masyarakat, seperti disinformasi, cyberbullying, echo chamber akibat algoritma media sosial, sampai merosotnya kualitas ruang publik digital.

Menurut pengajar Program Magister Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie Eli Jamilah Miharja, kemajuan teknologi perlu dimengerti tak sekadar dari sisi pembaruan, melainkan juga lewat sudut pandang sosial dan budaya, mengingat hal itu berimbas pada cara publik merajut relasi sosial, memahami budaya, serta merangkai identitas.

"Karena itu, pendekatan akademik melalui riset menjadi penting agar perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan secara bertanggung jawab tanpa mengikis nilai-nilai budaya yang menjadi identitas bangsa," katanya.

Webinar mengundang dua akademisi yang mempunyai rekam jejak kokoh di ranah komunikasi dan budaya digital, yakni dosen berserta Communication Specialist Dr Hany Nurahmawati, yang mempunyai jam terbang akademik di Indonesia, Malaysia, dan Prancis, mengulas dinamika komunikasi lintas budaya, branding, digital media, berserta pergeseran perilaku masyarakat dalam ekosistem digital.

Di samping itu, Assoc. Prof Bambang Sukma Wijaya pakar branding dan komunikasi pemasaran yang sempat berkarier melampaui satu dekade di industri periklanan, membedah kemajuan (AI), consumer culture, etika komunikasi, sampai implikasinya terhadap praktik komunikasi modern.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua